Selasa, 16 April 2013

20.04 - No comments

Pengertian Pembawaan dan Lingkungan

BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Banyak orang menyatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan itu sama. Tetapi pada dasarnya keduanya berbeda. Meski memiliki hubungan yang saling terkait, keduanya dapat dipisahkan, tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Objek psikologi adalah perkembangan manusia sebagai pribadi. Pengertian perkembangan menunjukkan pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan, namun berbeda untuk tiap orang. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan fisik seseorang, sedangkan perkembangan berkaitan dengan perubahan psikis seseorang. Proses pertumbuhan dan perkembangan berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Faktor hereditas serta faktor lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Faktor hereditas mengarah pada genetis individu yang pastinya berbeda antara yang satu dengan yang lain Faktor hereditas tidak dapat di ubah karena itu adalah faktor yang sudah ada ketika kita lahir dan akan terus ada, faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan karena anak pada saat mulai berkembang tentunya berada pada lingkungan tertentu, baik itu lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat, di lingkungan masyarakat lah kita mulai beradaptasi dengan orang banyak mulai mengenal bagaimana hidup berdampingan dengan orang banyak, dan bagaimana kita bisa menyikapi hal- hal yang ada dalam masyarakat baik itu hal yang positif maupun hal yang negatif. Dalam proses perkembangan manusia menghasilkan tingkah laku yang hanya bisa diamati tanpa bisa diukur berlangsung dari lahir sampai akhir hayat dan menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna serta bersifat kontinyu.
Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak di atur kembali. Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar.Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap kebentuk/tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian. Dalam perkembangan mengacu pada fisik maupun psikis,bersifat evolusi dan involusi, dan terjadi sepanjang hayat.
Pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk pada perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan sebagainya. Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, dan kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Dalam pertumbuhan hanya mengacu pada fisik atau tubuh, hanya terbatas pada sifat evolusi dan hanya pada batas waktu tertentu.
Dengan demikian, perkembangan lebih merujuk pada kemajuan mental dan perkembangan rohani, sedangkan pertumbuhan lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya.
Dalam pembahasan makalah dibawah ini, kami akan membahas tentang  faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dan pengaruhnya terhadap proses belajar anak.

B.  RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dan pengaruhnya terhadap proses belajar anak, diantaranya:
1.      Pengertian dan fungsi pembawaan
2.      Pengertian dan fungsi lingkungan
3.      Tiga aliran dalam proses perkembangan
4.      Pengaruh pembawaan (hereditas) dan lingkungan terhadap proses belajar anak.

C.  METODE PENULISAN
Adapun metode penulisan yang penulis gunakan yaitu metode kepustakaan dan metode internet browsing.

D.  TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini diantaranya adalah untuk memenuhi tugas dosen Psikologi Pendidikan yang dibimbing oleh bapak Dra. Raihanatul Jannah, M.Pd.  dan untuk menambah dan memperluas wawasan serta ilmu pengetahuan khususnya dibidang Psikologi Pendidikan.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN DAN FUNGSI PEMBAWAAN
Turunan atau pembawaan (hereditas) memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau nenek dan kakek. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak, dan penyakit.
Warisan atau turunan yang dibawa anak sejak lahir dari kandungan sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari nenek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ibu dan ayahnya). Hal ini sesuai dengan hukum Mendel, yang dicetuskan Groger Mendel (1857) etelah mengadakan percobaan mengawinkan berbagai macam tanaman dikebunnya, anatara lain sebagai berikut:
a.    Apabila bunga ros merah dikawinkan dengan putih, hasilnya bunga ros yang berwarna merah jambu.
b.    Apabila turunan tersebut (berwarna merah jambu) dikawinkan pada sesamanya (sama-sama berwarna merah jambu) maka hasilnya adalah
50% berwarna merah jambu
25% berwarna merah
25% berwarna putih
Hukum diatas diyakini berlaku juga untuk manusia. Angka persentase tersebut mengandung arti warisan yang diterima anak tidak selamanya berasal dari kedua orangtuanya, tetapi dapat juga dari nenek atau kakeknya. Misalnya seorang anak memilki sifat pemarah. Itu tidak dimiliki oleh ibu-bapaknya tetapi kakeknya.
a)      Bentuk tubuh dan warna kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya ada anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah sepetrti ayahnya, rambut keriting dan berwarna kulit putih seprti ibunya. Bila anak yang berpembawaan gemuk seperti ini, bagaimana pun susah hidupnya nanti, dia sukar menjadi kurus, tetapi sebaliknya sedikit saja ia makan, akan mudah menjadi gemuk. Demikian juga dengan rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan kembali menjadi keriting.
Cukup besar pengaruh turunan (pembawaan) terhadap jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah bentuk dan warna kulit seseorang, namun faktor turunan tidak dapat diabaikan begitu saja.
b)     Sifat-sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, atau nenek dan kakek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya: penyabar, pemaraha, kikir, pemboros, hemat, dan sebagainya.
Sifat atau tabiat berbeda dengan kebiasaan. Sifat sangat sukar diubah, sedangkan kebiasaan dapat diubah setiap saat bila dikehendaki dengan sungguh-sungguh. Kebiasaan minum-minuman keras, mabuk, main judi, mencuri, dan sebagainya bisa dkiubah dan dibuang dari diri seseorang. Demikian pula dengan kebiasaan merokok, lambat bangun pagi, tidur siang, malas, dan sebgaainya. Semuanya daat diubah dan ditukar dengan kebiasaan yang baik, seperti rajin, lincah, cepat bangun, jujur, suka menolong  dan lain sebagainya.
Para ahli psikologi telah membagi tipe-tipe manusia berdsarkan sifat yang dimilikinya. Salah satu pembagian yang dikemukakan Edward Sparanger adalah:
-  Manusia ekonomi : memiliki sifat hemat, rajin bekerja, dan sebagainya.
-  Manusia teori       : suka berpikir, meneliti, dan sebagainya.
-  Manusia politik    : suka menguasai dan memerintah.
-  Manusia sosial      : suka menderma dan membatu orang lain.
-  Manusia seni        : suka keindahan dan memiliki perasaan halus.
-  Manusia agama    : suka mengabdi dan taat melaksanakan ibadah.
Untuk mengetahui sifat atau watak anak secara tepat dapat dilakukan dengan melakukan tes kepribadian. Namun, informasi yang diperoleh dari orang tua tentang sifat anak-anaknya merupakan bantuan yang sangat baik bagi guru. Mengetahui sifat atau watak anak mendalam, akan membantu guru untuk mendidiknya. Misalnya anak yang penakut perlu dibangkitkan semangatnya agar menjadi berni mengemukakah pendapatnya. Demikian pula dengan anak yang merasa mindernya, perlu dibangkitkan rasa harga dirinya agar jiwanya tidak semakin tertekan.
c)      Inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa, dan sebagainya.
Kemampuan umum atau inteligensi seseorang dapt diketahui secar lebih tepat denan menggunakn tes inteligensi. Disekolah yang tidak memiliki tes inteligensi, nilai rata-rata rapor murid dapat menjadi penggantinya karena nilai rapor merupakan gambaran tentang kevcerdasan umum setiap anak.
Adapun tes inteligensi yang standar antara lain:
1)   Tes Binet-Simon
Ini adalah tes inteligensi yang pertama kali diciptakan oleh Alfred Binet dan Theodore Simon tahun 1908 di Perancis. Tes ini mulanya sangat sederhana dan hany untuk anak-anak saja. Akhirnya mendapat sambutan baik dari para ahli, sehingga bayak yang menyempurnakannya. Para ahli yang merivisi tes Binet-Simon ialah:
-  Kuhlmanun tahun 1912 dan 1922.
-  Lewis Termasn dari Stanford University tahun 1916.
-  Mordan tahun 1932.
-  David Merril tahun 1937.


2)   Tes Wechsler
Ini adalah tes inteligensi yang dibuat oleh Wechsler Bellevue tahun 1939. Tes ini ada 2 macam. Pertama untuk umur 16 tahun keatas, yaitu Wechsler Adult Inteligence Scale for Children (WISC). Tes Wechsler meliputi dua sub, nyaitu verbal dan performance (tes lisan dan perbuatan atau keterampilan). Tes lisan meliputi pengetahuan umum, pemahaman, ingatan, mencari kesamaan, hitungan dan bahasa.
Persamaan tes Wechsler dengan Binet-Simon yaitu kedua tes tersebut dilaksanakan secara individual (perorangan). Sedangkan perbedaannya yaitu jika tes Binhet-Simon menggunakan skala umur maka Wechsler dengan skala angka.
3)   Tes Army alpha dan beta
Tes ini digunakan untuk calon-calon tentara di Amerika Serikat. Tes Army alpha khusus untuk calon tentara yang pandai membaca, sedangkan Army beta untuk calon yang tidak pandai membaca.tes ini diciptakan pada mulanya untuk memenuhi keperluan yang mendesak dengan menyeleksi calon tentara waktu Perang Dunia II. Salah satu kelebihannya dibandingkan dengan tes Binet-Simon dan Weschler adalah tes ini dilaksanakan secara rombongan (kelompok) sehingga menghemat waktu.
4)   Tes Progressive Matrices
Tes inteligensi ini diciptakan oleh L.S.Penrose dan J.C. Laven di Inggris tahun 1938. Tes ini dapat diberikan secara rombongan perorangan. Berbeda dengan Binet dan Wischler. Tes ini tidak menggunakan IQ tetapi menggunakan percentile.

d)     Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki sesorang. Kemampuan khusus tu biasanya berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu. Misalnya keterampilan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olahraga, matematika, bahasa, ekonomi, teknik, keguruan, sosial, agama, dan sebagainya.
Bakat sebagaimana halnya dengan inteligensi merupakan warisan dari orang tua, nenek, kakek dari pihak ibu dan bapak. Warisan dapat dipupuk dan dikembangkan dengan bermacam-macam cara terutama dengan pelatihan dan didukung dana yang memadai. Seseorang yang memiliki bakat tertentu sejak kecilnya, namun tidak memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya sebab tidak memiliki dana untuk latihan, maka bakatnya tidak dapat berkembang. Hal sepeti ini dapat dikatakan bakat terpendam.
Pada umumnya anak-anak akan mempunyai bakat dapat diketahui orang tuanya dengan memperhatikan tingkah laku dan kegiatan anaknya sejak dari kecil. Biasanya anak yang memiliki bakat dalam suatu bidang, dia akan gemar sekali melakukan atau membicarakan bidang tersebut.
Disekolah, para guru dapat mengetahui, apakah muridnya memiliki bakat atau tidak, dengan melihat rapornya. Bila anak memiliki nilai yang istimewa (9-10) dalam suatu mata pelajaran tertentu, berarti anak memiliki bakat pada mata pelajaran tersebut. Untuk mengetahui bakat seseorang secara pasti dapat dilakukan dengan menggunakan tes bakat.
Beberapa yang sudah dikenal antara lain:
1.    Tes bakat DAT (Differential Aptitude Test)
Melalui tes ini dapat diukur berbagai aspek kemampuan seseorang, yaitu:
-       Kemampuan verbal (bahasa);
-       Kemampuan berhitung (matematika);
-       Berpikir abstrak;
-       Kemampuan mekanis;
-       Kecepatan dan ketelitian.
2.    Tes bakat GATB (General Apility Test Bateray)
Dengan tes ini dapat diukur:
-       Kemampuan verbal;
-       Penguasaan bilangan;
-       Pemahaman ruang;
-       Pengamatan bentuk;
-       Penbgenalan tulisan;
-       Koordinasi gerak.

e)      Penyakit atau cacat tubuh
Beberapa penyakit atau cacat tubuh bisa berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan, syaraf, dan luka yang sulit kering (darah terus keluar).
Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.[1]

B.  PENGERTIAN DAN FUNGSI LINGKUNGAN
Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya.
Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen.[2]
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangannya bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
a.    Keluarga
Keluarga, tempat anak diasuh dan dibesarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, terutama keadaan ekonomi rumah tangga serta tingkat kemampuan orang tua dalam merawat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jasmani anak. Sementara tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan rohaniah anak, terutama kepribadian dan kemajuan pendidikannya.
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada umumnya sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tak mampu (miskin). Demikian pula yang orang tuanya berpendidikan akan menghasilkan anak yang berpendidikan pula.
b.   Sekolah
Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak karena di 100 sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian anak.
Anak yang memasuki sekolah guru berbeda kepribadiannya dengan anak yang masuk STM. Demikian pula yang tamat dari sekolah tinggi akan berbeda pola pikirnya dengan orang yang tidak bersekolah.
c.    Masyarakat
Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di desa atau kota tempat tinggal ia juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya.
Anak-anak yang dibesarkan di kota berbeda pola pikirnya dengan anak desa. Anak kota umumnya lebih bersikap dinamis dan aktif bila dibandingkan dengan anak desa yang cenderung bersikap statis dan lamban. Anak kota lebih berani mengemukakan pendapatnya, ramah, dan luwes sikapnya dalam pergaulan sehari-hari. Sementara anak desa umumnya kurang berani mengeluarkan pendapat,agak penakut, pemalu, dan kaku dalam pergaulan.
Semua perbedaan sikap dan pola pikir diatas adalah akibat pengaruh lingkungan masyarakat yang berbeda antara kota dan desa.
d.   Keadaan alam sekitar
Keadaan alam sekitar tempat anak tinggal juga berpengaruh  bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keadaan alam sekitar adalah lokasi tempat anak bertempat tinggal, di desa atau di kota, tepi pantai atau pegunungan, desa terpencil atau dekat ke kota. Sebagai contoh, anak desa lebih suka terhadap keadaan yang tenang atau agak sepi, sedangkan anak kota menginginkan keadaan yang ramai.
Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir atau kejiwaan anak.
Lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan fisik. Sejak individu berada dalam konsepsi, lingkungan telah ikut memberi andil bagi proses pembuahan/pertumbuhan. Suhu, makanan, keadaan gizi, vitamin, mineral, kesehatan jasmani, aktivitas dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Klasifikasi tingkah laku manusia, terdiri atas empat macam, yaitu:
1.    Insting; aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.
2.    Habits; kebiasaan yang dihasilkan dari pelatihan atau aktivitas yang berulang-ulang.
3.    Native behavior; tingkah laku pembawaan, mengikuti mekanisme hereditas.
4.    Acquired behavior; tingkah laku yang dapat sebagai hasil dari belajar.
Semua jenis tingkah laku diatas dipengaruhi, baik oleh hereditas maupun lingkungan.
Antara hereditas dan lingkungan terjadi hubungan atau interaksi. Setiap faktor hereditas beroperasi denngan cara yang berbeda-beda menurut kondisi lingkungan yang berbeda-beda pula. Selain dengan interaksi, hubungan antara hereditas dan lingkungan dapat pula digambarkan sebagai additive contributtion. Menurut pandangan ini, hereditas dan lingkungan sama-sama menyumbang pertumbuhan dan perkembangan fisiologis dan bahkan juga tingkah laku individu secara jointly (bersama-sama).
Demikianlah proses pertumbuhan memerlukan kondisi kesehatan dan stamina fisik, stabilitas emosi dan sistem syaraf, kapasitas mental, bebevrapa macam keterampilan beraktivitas atau bekerja dan sebagainya.
C.  TIGA ALIRAN DALAM PROSES PERKEMBANGAN
Dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa, para ahli berbeda pendapat karena sudut pandang dan pendekatan mereka terhadap eksistensi siswa tidak sama. Untuk lebih jelasnya, berikut paparan aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa.
1.      Aliran Nativisme
Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran ini konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Para ahli aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan  manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut pesimisme paedagogis.[3]
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menujukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah besar bahwa anaknya juga akan menjadi ahli musik; kalau ayahnya seorang pelukis, maka anaknya juga akan menjadi pelukis; kalau ayahnya seorang ahli fisika, maka anaknya ternyata juga menjadi ahli fisika dan sebagainya. Pokoknya keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki orang tua juga dimiliki oleh anaknya. Jika benar segala sesuatu itu tergantung pada dasarnya (pembawaan), jadi pengaruh lingkungan dan pendidikan dianggap tidak ada, maka konsekuensinya harus kita tutup saja semua sekolah, sebab sekolah tidak mampu mengubah anak yang membutuhkan pertolongan. Tidak perlu ada ibu, guru, orang tua mendidik anak-anak karena hal itu tidak akan ada gunanya, tak dapat memperbaiki keadaan yang sudah tersedia (ada) menurut dasar. Akan tetapi hal yang demikian itu justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah ternyata sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda, karena pendidikan itu adalah hal yang dapat, perlu, Bahkan harus dilakukan. Jadi konsepsi nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.[4]
2.      Aliran Empirisme
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama john Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah The School Of British Empiricism (aliran empirisme Inggris). Namun aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama environmentalisme (aliran lingkungan) dan psikologi bernama environmental psychology (psikologi lingkungan) yang relatif masih baru.
Doktrin aliran empirisme yang amat masyhur adalah tabula rasa sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pada pengalaman, lingkungan, dan pendidikan. Dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.
Memang sukar dipungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap proses perkembangan dan masa depan siswa. Dalam hal ini, lingkungan keluarga (bukan bakat pembawaan dari keluarga) dan lingkungan masyarakat sekitar telah terbukti menentukan tinggi rendahnya mutu perilaku dan masa depan seorang siswa.
Namun demikian, menurut Ahmad Fauzi dalam bukunya Psikologi Umum bahwa sebuah fakta ironis yakni diantara para siswa yang dijuluki nakal dan brutal khususnya di kota-kota ternyata cukup banyak berasal dari kalangan keluarga berada, terpelajar, dan bahkan taat beragama. Sebaliknya, tidak sedikit anak pintar dan berakhlak baik yang lahir dari keluarga bodoh dan miskin atau bahkan dari keluarga yang tidak harmonis disamping bodoh dan miskin. Jadi, sejauh manakah validitas doktrin empirisme yang telah memunculkan optimisme pedagogis itu dapat bertahan?
3.      Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman.
Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, Stern dan para ahli yang mengikutinya tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman dan juga tidak berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor tersebut yang sama pentingnya. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika tanpa faktor pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.
Para penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan memiliki andil sama besar dalam menentukan masa depan seseorang. Jadi, seorang siswa yang lahir dari keluarga santri atau kiai, umpamanya kelak ia akan menjadi ahli agama apabila ia dididik dilingkungkan pendidikan keagamaan.
Untuk lebih konkretnya, marilah kita ambil sebuah contoh lagi. Seorang anak yang normal pasti memiliki bakat untuk berdiri tegak diatas kedua kakinya. Tetapi apabila anak tersebut tidak hidup dilingkungkan masyarakat manusia, misalnya kalau dia dibuang ketengah hutan belantara dan tinggal bersama hewan, maka bakat berdiri yang ia miliki secara turun-temurun dari orang tuanya itu akan sulit diwujudkan. Jika anak tersebut diasuh oleh sekelompok serigala, tentu ia akan berjalan diatas kedua kaki dan tangannya. Dia akan merangkak seperti serigala pula. Jadi, bakat dan pembawaan dalam hal ini jelas tidak ada pengaruhnya apabila lingkungan atau pengalaman tidak mengembangkannya.
Banyak bukti menunjukkan, bahwa watak dan bakat seseorang yang tidak sama dengan orang tuanya itu, setelah ditelusuri ternyata watak dan bakat orang tersebut sama dengan kakek atau ayah/ibu kakeknya. Dengan demikian, tidak semua bakat dan watak seseorang dapat diturunkan langsung pada anak-anak cucunya. Alhasil, bakat dan watak dapat bersembunyi samapai beberapa generasi.
Apakah aliran konvergensi sebagaimana tersebut di atas dapat kita jadikan pedoman dalam arti bahwa perkembangan seorang siswa pasti bergantung pada pembawaan dan lingkungan pendidikannya? Sampai batas tertentu aliran ini dapat kita terima, tetapi tidak secara mutlak. Sebab masih ada satu hal lagi yang perlu kita ingat yakni potensi psikologis tertentu yang tersimpan rapi dalam diri setiap siswa dan sulit diidentifikasi.
Hasil proses perkembangan seorang siswa dapat dijelaskan hanya dengan menyebutkan pembawaan dan lingkungan. Artinya, keberhasilan seorang siswa  bukan dari pembawaan dan lingkungan saja, karena siswa tersebut tidak hanya dikembangkan oleh pembawaan dan lingkungannya, tetapi juga oleh diri siswa itu sendiri. Setiap orang, termasuk siswa tersebut, memilki potensi self-direction dan self-discipline yang memungkinkan dirinya bebas memilih antara mengikuti atau menolak sesuatu (aturan atau stimulus) lingkungan tertentu yang hendak mengembangkan dirinya. Alhasil, siswa itu sendiri memiliki potensi psikologis tersendiri untuk mengembangkan bakat dan pembawaannya dalam konteks lingkungan tertentu.
Menurut Ahmad Fauzi bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam yaitu:
1)        Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkann dirinya sendiri;
2)        Faktor eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan.
D.  PENGARUH PEMBAWAAN (HEREDITAS) DAN LINGKUNGAN TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK[5]
Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam:
1)      Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
2)      Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3)      Faktor pendekatan belajar (Approach to Learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor diatas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berinteligensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebut di ataslah, muncul siswa-siswa yang high-achievers (berprestasi tinggi) dan under-achievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka.
1)   Faktor internal siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni: aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
a)    Aspek fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu, siswa juga dianjurkan memilih pola istirahat dan olahraga ringan yang sedapat mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting sebab perubahan pola makan-minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.
Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan dikelas. Daya pendengaran dan penglihatan siswa yang rendah, umpamanya, akan menyulitkan sensory register dalam menyerap item-item informasi yang bersifat echoic dan econic (gema dan citra). Akibat negatif selanjutnya adalah terhambatnya proses informasi yang dilakukan oleh sistem memori siswa tersebut.
Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah mata dan telinga di atas,anda selaku guru yang profesional seyogianya bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas kesehatan setempat.Kiat lain yang tak kalah penting untuk mengatasi kekurangsempurnaan pendengaran dan penglihatan siswa-siswa tertentu itu ialah dengan menempatkan mereka di deretan bangku terdepan secara bijaksana. Artinya, anda tidak perlu menunjukkan sikap dan alasan (apalagi di depan umum) bahwa mereka ditempatkan di depan kelas karena kekurangbaikan mata dan telinga mereka. Langkah bijaksana ini perlu diambil untuk mempertahankan self-esteem dan self-confidence siswa-siswa khusus tersebut. Kemerosotan self-esteem dan self-confidence (rasa percaya diri) seorang siswa akan menimbulkan frustrasi yang pada gilirannya cepat atau lambat siswa tersebut akan menjadi under-achiever atau mungkin gagal, meskipun kapasitas kognitif mereka normal atau lebih tinggi daripada teman-temannya.  
b)   Aspek psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: tingkat kecerdasan/inteligensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.
-  Inteligensi siswa
Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi inteligensi sebenarnya bukan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas.
-  Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada anda dan mata pelajaran yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap anda dan mata pelajaran anda, apalagi jika diiringi dengan kebencian kepada anda atau kepada mata pelajaran anda dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa seperti tersebut diatas, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya.
-  Bakat siswa
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi secara global, bakat itu mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.
Bakat akan dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karenanya adalah hal yang tidak bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki anaknya itu. Pemaksaan kehendak terhadap seorang siswa, dan juga ketidaksadaran siswa terhadap bakatnya sendiri sehingga ia memilih jurusan keahlian tertentu yang sebenarnya bukan bakatnya, akan berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik.
-  Minat siswa
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1988), minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
-  Motivasi siswa
Motivasi ialah keadaan internal organisme-baik manusia ataupun hewan-yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman, 1986; Reber, 1988).
Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan  belajar. Termasuk dalam motivasi siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa yaitu seperti pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru dan seterusnya.
Kekurangan atau ketiadaan motivasi baik yang bersifat internal maupun eksternal akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun dirumah.

2)   Faktor eksternal siswa
a)    Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, masyarakat dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat  belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik atau buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
b)   Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Contoh: kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tak memiliki sarana umum untuk kegiatan remaja (seperti lapangan voli) akan mendorong siswa untuk berkeliaran ke tempat-tempat yang sebenarnya tak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan perkampungan  seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.

3)   Faktor pendekatan belajar
Pendekatan belajar sebagai cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujun belajar tertentu (Lawson, 1991). Faktor pendekatan belajar sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga semakin mendalam cara belajar siswa maka semakin baik hasilnya.
















BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
1.      Turunan atau pembawaan (hereditas) memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau nenek dan kakek. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak, dan penyakit.
2.      Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya.
3.      Tiga aliran dalam proses perkembangan siswa.
1)      Aliran Nativisme
Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis.  Para ahli aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan  manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa.
2)      Aliran Empirisme
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama john Locke (1632-1704). Doktrin aliran empirisme yang amat masyhur adalah tabula rasa sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pada pengalaman, lingkungan, dan pendidikan.
3)      Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.
4.      Pengaruh pembawaan dan lingkungan terhadap proses belajar anak diantarnya ada beberapa faktor yaitu 1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. 2) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. 3) Faktor pendekatan belajar (Approach to Learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

B.  SARAN
Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan sarannya dari para pembaca sekalian agar isi makalah ini bisa lebih baik lagi dan dapat diperbaiki sebagaimana mestinya. Semoga makalah yang penulis sajikan ini dapat bermanfaat dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiiinnn....
 Wallahu A’lam...













 
DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, Anwar Bey, 1994, Psikologi Pendidikan, Medan, Pustaka Widyasarana.
Purwanto,  Ngalim. M,  2007, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Fauzi, Ahmad, 1997, Psikologi Umum, Bandung, CV Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi, 2002, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin, 2008, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.



[1] Drs. Anwar Bey Hasibuan, Psikologi Pendidikan, Pustaka Widyasarana, Medan, 1994, hlm. 25.
[2] Drs. M. Ngalim Purwanto MP, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007, h. 72.
[3] Fauzi, Ahmad, Psikologi Umum, CV Pustaka Setia, Bandung, 1997, h.108
[4] Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,2002, h.177
[5] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008. Hal 132-139.
dytoshare

0 komentar:

Posting Komentar