20.04 -
No comments
No comments
Pengertian Pembawaan dan Lingkungan
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Banyak orang menyatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan itu sama. Tetapi
pada dasarnya keduanya berbeda. Meski memiliki hubungan yang saling terkait,
keduanya dapat dipisahkan, tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Objek psikologi adalah perkembangan manusia sebagai pribadi. Pengertian
perkembangan menunjukkan pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak
begitu saja dapat diulang kembali. Setiap
manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan, namun berbeda untuk tiap orang.
Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan fisik seseorang, sedangkan perkembangan
berkaitan dengan perubahan psikis seseorang. Proses pertumbuhan dan
perkembangan berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Faktor
hereditas serta faktor lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan. Faktor hereditas mengarah pada genetis individu yang pastinya
berbeda antara yang satu dengan yang lain Faktor hereditas tidak dapat di ubah
karena itu adalah faktor yang sudah ada ketika kita lahir dan akan terus ada,
faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan karena anak pada saat
mulai berkembang tentunya berada pada lingkungan tertentu, baik itu lingkungan
keluarga maupun lingkungan masyarakat, di lingkungan masyarakat lah kita mulai
beradaptasi dengan orang banyak mulai mengenal bagaimana hidup berdampingan
dengan orang banyak, dan bagaimana kita bisa menyikapi hal- hal yang ada dalam
masyarakat baik itu hal yang positif maupun hal yang negatif. Dalam proses
perkembangan manusia menghasilkan tingkah laku yang hanya bisa diamati tanpa
bisa diukur berlangsung dari lahir sampai akhir hayat dan menuju ke arah yang
lebih maju dan sempurna serta bersifat kontinyu.
Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak di atur
kembali. Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang
semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan
yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi
jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan
melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar.Perkembangan itu bergerak secara
berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap kebentuk/tahap
berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan
berakhir dengan kematian. Dalam perkembangan mengacu pada fisik maupun
psikis,bersifat evolusi dan involusi, dan terjadi sepanjang hayat.
Pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk pada perubahan-perubahan
yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti
pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan
sebagainya. Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, dan kemudian
mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Dalam pertumbuhan hanya
mengacu pada fisik atau tubuh, hanya terbatas pada sifat evolusi dan hanya pada
batas waktu tertentu.
Dengan demikian, perkembangan lebih merujuk pada kemajuan mental dan
perkembangan rohani, sedangkan pertumbuhan lebih cenderung menunjuk pada
kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik
optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya.
Dalam
pembahasan makalah dibawah ini, kami akan membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak dan pengaruhnya terhadap proses belajar anak.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan
kami bahas dalam makalah ini yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak dan pengaruhnya terhadap proses belajar anak,
diantaranya:
1. Pengertian
dan fungsi pembawaan
2. Pengertian
dan fungsi lingkungan
3. Tiga
aliran dalam proses perkembangan
4. Pengaruh
pembawaan (hereditas) dan lingkungan terhadap proses belajar anak.
C.
METODE
PENULISAN
Adapun metode penulisan yang penulis gunakan yaitu metode
kepustakaan dan metode internet browsing.
D.
TUJUAN
PENULISAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini diantaranya adalah untuk memenuhi
tugas dosen Psikologi Pendidikan yang dibimbing oleh bapak Dra. Raihanatul
Jannah, M.Pd. dan untuk menambah dan
memperluas wawasan serta ilmu pengetahuan khususnya dibidang Psikologi Pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
DAN FUNGSI PEMBAWAAN
Turunan atau
pembawaan (hereditas) memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang
berasal dari kedua ibu-bapak atau nenek dan kakek. Warisan (turunan atau
pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna
kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak, dan penyakit.
Warisan atau
turunan yang dibawa anak sejak lahir dari kandungan sebagian besar berasal dari
kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari nenek dan moyangnya dari kedua
belah pihak (ibu dan ayahnya). Hal ini sesuai dengan hukum Mendel, yang
dicetuskan Groger Mendel (1857) etelah mengadakan percobaan mengawinkan
berbagai macam tanaman dikebunnya, anatara lain sebagai berikut:
a.
Apabila bunga ros merah dikawinkan
dengan putih, hasilnya bunga ros yang berwarna merah jambu.
b.
Apabila turunan tersebut (berwarna
merah jambu) dikawinkan pada sesamanya (sama-sama berwarna merah jambu) maka
hasilnya adalah
50% berwarna merah jambu
25% berwarna merah
25% berwarna putih
Hukum diatas
diyakini berlaku juga untuk manusia. Angka persentase tersebut mengandung arti
warisan yang diterima anak tidak selamanya berasal dari kedua orangtuanya,
tetapi dapat juga dari nenek atau kakeknya. Misalnya seorang anak memilki sifat
pemarah. Itu tidak dimiliki oleh ibu-bapaknya tetapi kakeknya.
a) Bentuk tubuh dan warna kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir
adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya ada anak yang memiliki
bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah sepetrti ayahnya, rambut keriting dan
berwarna kulit putih seprti ibunya. Bila anak yang berpembawaan gemuk seperti
ini, bagaimana pun susah hidupnya nanti, dia sukar menjadi kurus, tetapi
sebaliknya sedikit saja ia makan, akan mudah menjadi gemuk. Demikian juga
dengan rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan
kembali menjadi keriting.
Cukup besar pengaruh turunan (pembawaan) terhadap
jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah bentuk dan warna
kulit seseorang, namun faktor turunan tidak dapat diabaikan begitu saja.
b) Sifat-sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah
satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, atau nenek dan kakek. Bermacam-macam
sifat yang dimiliki manusia, misalnya: penyabar, pemaraha, kikir, pemboros,
hemat, dan sebagainya.
Sifat atau tabiat berbeda dengan kebiasaan. Sifat
sangat sukar diubah, sedangkan kebiasaan dapat diubah setiap saat bila dikehendaki
dengan sungguh-sungguh. Kebiasaan minum-minuman keras, mabuk, main judi,
mencuri, dan sebagainya bisa dkiubah dan dibuang dari diri seseorang. Demikian
pula dengan kebiasaan merokok, lambat bangun pagi, tidur siang, malas, dan
sebgaainya. Semuanya daat diubah dan ditukar dengan kebiasaan yang baik,
seperti rajin, lincah, cepat bangun, jujur, suka menolong dan lain sebagainya.
Para ahli psikologi telah membagi tipe-tipe manusia
berdsarkan sifat yang dimilikinya. Salah satu pembagian yang dikemukakan Edward
Sparanger adalah:
- Manusia
ekonomi : memiliki sifat hemat, rajin
bekerja, dan sebagainya.
- Manusia
teori : suka berpikir, meneliti, dan
sebagainya.
- Manusia
politik : suka menguasai dan
memerintah.
- Manusia
sosial : suka menderma dan membatu
orang lain.
- Manusia seni : suka keindahan dan memiliki perasaan
halus.
- Manusia
agama : suka mengabdi dan taat
melaksanakan ibadah.
Untuk mengetahui sifat atau watak anak secara tepat
dapat dilakukan dengan melakukan tes kepribadian. Namun, informasi yang
diperoleh dari orang tua tentang sifat anak-anaknya merupakan bantuan yang
sangat baik bagi guru. Mengetahui sifat atau watak anak mendalam, akan membantu
guru untuk mendidiknya. Misalnya anak yang penakut perlu dibangkitkan
semangatnya agar menjadi berni mengemukakah pendapatnya. Demikian pula dengan
anak yang merasa mindernya, perlu dibangkitkan rasa harga dirinya agar jiwanya
tidak semakin tertekan.
c) Inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk
mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang
bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti:
abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa, dan
sebagainya.
Kemampuan umum atau inteligensi seseorang dapt
diketahui secar lebih tepat denan menggunakn tes inteligensi. Disekolah yang
tidak memiliki tes inteligensi, nilai rata-rata rapor murid dapat menjadi
penggantinya karena nilai rapor merupakan gambaran tentang kevcerdasan umum
setiap anak.
Adapun tes
inteligensi yang standar antara lain:
1) Tes Binet-Simon
Ini adalah tes inteligensi yang pertama kali
diciptakan oleh Alfred Binet dan Theodore Simon tahun 1908 di Perancis. Tes ini
mulanya sangat sederhana dan hany untuk anak-anak saja. Akhirnya mendapat
sambutan baik dari para ahli, sehingga bayak yang menyempurnakannya. Para ahli
yang merivisi tes Binet-Simon ialah:
- Kuhlmanun
tahun 1912 dan 1922.
- Lewis Termasn
dari Stanford University tahun 1916.
- Mordan tahun
1932.
- David Merril
tahun 1937.
2) Tes Wechsler
Ini adalah tes inteligensi yang dibuat oleh Wechsler
Bellevue tahun 1939. Tes ini ada 2 macam. Pertama untuk umur 16 tahun keatas,
yaitu Wechsler Adult Inteligence Scale
for Children (WISC). Tes Wechsler meliputi dua sub, nyaitu verbal dan
performance (tes lisan dan perbuatan atau keterampilan). Tes lisan meliputi
pengetahuan umum, pemahaman, ingatan, mencari kesamaan, hitungan dan bahasa.
Persamaan tes Wechsler dengan Binet-Simon yaitu kedua
tes tersebut dilaksanakan secara individual (perorangan). Sedangkan
perbedaannya yaitu jika tes Binhet-Simon menggunakan skala umur maka Wechsler
dengan skala angka.
3) Tes Army alpha dan beta
Tes ini digunakan untuk calon-calon tentara di Amerika
Serikat. Tes Army alpha khusus untuk calon tentara yang pandai membaca,
sedangkan Army beta untuk calon yang tidak pandai membaca.tes ini diciptakan
pada mulanya untuk memenuhi keperluan yang mendesak dengan menyeleksi calon
tentara waktu Perang Dunia II. Salah satu kelebihannya dibandingkan dengan tes
Binet-Simon dan Weschler adalah tes ini dilaksanakan secara rombongan
(kelompok) sehingga menghemat waktu.
4) Tes Progressive Matrices
Tes inteligensi ini diciptakan oleh L.S.Penrose dan
J.C. Laven di Inggris tahun 1938. Tes ini dapat diberikan secara rombongan
perorangan. Berbeda dengan Binet dan Wischler. Tes ini tidak menggunakan IQ
tetapi menggunakan percentile.
d) Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara
berbagai jenis kemampuan yang dimiliki sesorang. Kemampuan khusus tu biasanya
berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu. Misalnya keterampilan khusus
(bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olahraga, matematika, bahasa,
ekonomi, teknik, keguruan, sosial, agama, dan sebagainya.
Bakat sebagaimana halnya dengan inteligensi merupakan
warisan dari orang tua, nenek, kakek dari pihak ibu dan bapak. Warisan dapat
dipupuk dan dikembangkan dengan bermacam-macam cara terutama dengan pelatihan
dan didukung dana yang memadai. Seseorang yang memiliki bakat tertentu sejak
kecilnya, namun tidak memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya sebab tidak
memiliki dana untuk latihan, maka bakatnya tidak dapat berkembang. Hal sepeti
ini dapat dikatakan bakat terpendam.
Pada umumnya anak-anak akan mempunyai bakat dapat
diketahui orang tuanya dengan memperhatikan tingkah laku dan kegiatan anaknya
sejak dari kecil. Biasanya anak yang memiliki bakat dalam suatu bidang, dia
akan gemar sekali melakukan atau membicarakan bidang tersebut.
Disekolah, para guru dapat mengetahui, apakah muridnya
memiliki bakat atau tidak, dengan melihat rapornya. Bila anak memiliki nilai
yang istimewa (9-10) dalam suatu mata pelajaran tertentu, berarti anak memiliki
bakat pada mata pelajaran tersebut. Untuk mengetahui bakat seseorang secara
pasti dapat dilakukan dengan menggunakan tes bakat.
Beberapa yang sudah dikenal antara lain:
1.
Tes bakat DAT (Differential Aptitude Test)
Melalui tes ini dapat diukur berbagai aspek kemampuan
seseorang, yaitu:
-
Kemampuan verbal (bahasa);
-
Kemampuan berhitung (matematika);
-
Berpikir abstrak;
-
Kemampuan mekanis;
-
Kecepatan dan ketelitian.
2.
Tes bakat GATB (General Apility Test Bateray)
Dengan tes ini dapat diukur:
-
Kemampuan verbal;
-
Penguasaan bilangan;
-
Pemahaman ruang;
-
Pengamatan bentuk;
-
Penbgenalan tulisan;
-
Koordinasi gerak.
e) Penyakit atau cacat tubuh
Beberapa penyakit atau cacat tubuh bisa berasal dari
turunan, seperti penyakit kebutaan, syaraf, dan luka yang sulit kering (darah
terus keluar).
Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.[1]
B.
PENGERTIAN
DAN FUNGSI LINGKUNGAN
Lingkungan
sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah
tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan
keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya.
Sartain
(seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
lingkungan meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara
tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen.[2]
Besar
kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangannya
bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan
rohaninya.
a.
Keluarga
Keluarga,
tempat anak diasuh dan dibesarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan
perkembangannya, terutama keadaan ekonomi rumah tangga serta tingkat kemampuan
orang tua dalam merawat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan
jasmani anak. Sementara tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya
terhadap perkembangan rohaniah anak, terutama kepribadian dan kemajuan
pendidikannya.
Anak
yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada umumnya sehat dan cepat
pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tak mampu
(miskin). Demikian pula yang orang tuanya berpendidikan akan menghasilkan anak
yang berpendidikan pula.
b.
Sekolah
Sekolah
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal
dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak
karena di 100 sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan.
Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir
serta kepribadian anak.
Anak
yang memasuki sekolah guru berbeda kepribadiannya dengan anak yang masuk STM.
Demikian pula yang tamat dari sekolah tinggi akan berbeda pola pikirnya dengan
orang yang tidak bersekolah.
c.
Masyarakat
Masyarakat
adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak di
luar sekolah. Kondisi orang-orang di desa atau kota tempat tinggal ia juga
turut mempengaruhi perkembangan jiwanya.
Anak-anak
yang dibesarkan di kota berbeda pola pikirnya dengan anak desa. Anak kota
umumnya lebih bersikap dinamis dan aktif bila dibandingkan dengan anak desa
yang cenderung bersikap statis dan lamban. Anak kota lebih berani mengemukakan
pendapatnya, ramah, dan luwes sikapnya dalam pergaulan sehari-hari. Sementara
anak desa umumnya kurang berani mengeluarkan pendapat,agak penakut, pemalu, dan
kaku dalam pergaulan.
Semua
perbedaan sikap dan pola pikir diatas adalah akibat pengaruh lingkungan
masyarakat yang berbeda antara kota dan desa.
d.
Keadaan
alam sekitar
Keadaan
alam sekitar tempat anak tinggal juga berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Keadaan alam sekitar adalah lokasi tempat anak bertempat tinggal, di desa atau
di kota, tepi pantai atau pegunungan, desa terpencil atau dekat ke kota.
Sebagai contoh, anak desa lebih suka terhadap keadaan yang tenang atau agak sepi,
sedangkan anak kota menginginkan keadaan yang ramai.
Keadaan
alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir atau
kejiwaan anak.
Lingkungan
sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan fisik. Sejak individu berada dalam
konsepsi, lingkungan telah ikut memberi andil bagi proses
pembuahan/pertumbuhan. Suhu, makanan, keadaan gizi, vitamin, mineral, kesehatan
jasmani, aktivitas dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Klasifikasi
tingkah laku manusia, terdiri atas empat macam, yaitu:
1. Insting;
aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.
2. Habits;
kebiasaan yang dihasilkan dari pelatihan atau aktivitas yang berulang-ulang.
3. Native
behavior; tingkah laku pembawaan, mengikuti mekanisme hereditas.
4. Acquired
behavior; tingkah laku yang dapat sebagai hasil dari belajar.
Semua
jenis tingkah laku diatas dipengaruhi, baik oleh hereditas maupun lingkungan.
Antara
hereditas dan lingkungan terjadi hubungan atau interaksi. Setiap faktor
hereditas beroperasi denngan cara yang berbeda-beda menurut kondisi lingkungan
yang berbeda-beda pula. Selain dengan interaksi, hubungan antara hereditas dan
lingkungan dapat pula digambarkan sebagai additive contributtion. Menurut
pandangan ini, hereditas dan lingkungan sama-sama menyumbang pertumbuhan dan
perkembangan fisiologis dan bahkan juga tingkah laku individu secara jointly
(bersama-sama).
Demikianlah
proses pertumbuhan memerlukan kondisi kesehatan dan stamina fisik, stabilitas
emosi dan sistem syaraf, kapasitas mental, bebevrapa macam keterampilan
beraktivitas atau bekerja dan sebagainya.
C.
TIGA
ALIRAN DALAM PROSES PERKEMBANGAN
Dalam menentukan faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan siswa, para ahli berbeda pendapat karena sudut
pandang dan pendekatan mereka terhadap eksistensi siswa tidak sama. Untuk lebih
jelasnya, berikut paparan aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan siswa.
1.
Aliran
Nativisme
Nativisme
adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran
pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer
(1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran ini konon dijuluki sebagai aliran
pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Para ahli
aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan
manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan
pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti
ini disebut pesimisme paedagogis.[3]
Para
ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi
ini dengan menujukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan
anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinannya adalah
besar bahwa anaknya juga akan menjadi ahli musik; kalau ayahnya seorang
pelukis, maka anaknya juga akan menjadi pelukis; kalau ayahnya seorang ahli
fisika, maka anaknya ternyata juga menjadi ahli fisika dan sebagainya. Pokoknya
keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki orang tua juga dimiliki oleh anaknya.
Jika benar segala sesuatu itu tergantung pada dasarnya (pembawaan), jadi
pengaruh lingkungan dan pendidikan dianggap tidak ada, maka konsekuensinya
harus kita tutup saja semua sekolah, sebab sekolah tidak mampu mengubah anak
yang membutuhkan pertolongan. Tidak perlu ada ibu, guru, orang tua mendidik
anak-anak karena hal itu tidak akan ada gunanya, tak dapat memperbaiki keadaan
yang sudah tersedia (ada) menurut dasar. Akan tetapi hal yang demikian itu
justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah ternyata
sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda,
karena pendidikan itu adalah hal yang dapat, perlu, Bahkan harus dilakukan.
Jadi konsepsi nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan.[4]
2.
Aliran
Empirisme
Kebalikan
dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama
john Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah The School Of British Empiricism (aliran empirisme Inggris). Namun
aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga
melahirkan sebuah aliran filsafat bernama environmentalisme (aliran lingkungan)
dan psikologi bernama environmental psychology (psikologi lingkungan) yang
relatif masih baru.
Doktrin
aliran empirisme yang amat masyhur adalah tabula rasa sebuah istilah bahasa
latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank
tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pada pengalaman,
lingkungan, dan pendidikan. Dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung
pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan
sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut
empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan
kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak
kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.
Memang
sukar dipungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap proses
perkembangan dan masa depan siswa. Dalam hal ini, lingkungan keluarga (bukan
bakat pembawaan dari keluarga) dan lingkungan masyarakat sekitar telah terbukti
menentukan tinggi rendahnya mutu perilaku dan masa depan seorang siswa.
Namun
demikian, menurut Ahmad Fauzi dalam bukunya Psikologi Umum bahwa sebuah fakta
ironis yakni diantara para siswa yang dijuluki nakal dan brutal khususnya di
kota-kota ternyata cukup banyak berasal dari kalangan keluarga berada,
terpelajar, dan bahkan taat beragama. Sebaliknya, tidak sedikit anak pintar dan
berakhlak baik yang lahir dari keluarga bodoh dan miskin atau bahkan dari
keluarga yang tidak harmonis disamping bodoh dan miskin. Jadi, sejauh manakah
validitas doktrin empirisme yang telah memunculkan optimisme pedagogis itu
dapat bertahan?
3.
Aliran
Konvergensi
Aliran
konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme.
Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan
sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama
konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan
psikolog Jerman.
Dalam
menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, Stern dan para ahli
yang mengikutinya tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman dan juga
tidak berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor
tersebut yang sama pentingnya. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika
tanpa faktor pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa
faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan
harapan.
Para
penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun
faktor lingkungan memiliki andil sama besar dalam menentukan masa depan
seseorang. Jadi, seorang siswa yang lahir dari keluarga santri atau kiai,
umpamanya kelak ia akan menjadi ahli agama apabila ia dididik dilingkungkan
pendidikan keagamaan.
Untuk
lebih konkretnya, marilah kita ambil sebuah contoh lagi. Seorang anak yang
normal pasti memiliki bakat untuk berdiri tegak diatas kedua kakinya. Tetapi
apabila anak tersebut tidak hidup dilingkungkan masyarakat manusia, misalnya
kalau dia dibuang ketengah hutan belantara dan tinggal bersama hewan, maka
bakat berdiri yang ia miliki secara turun-temurun dari orang tuanya itu akan
sulit diwujudkan. Jika anak tersebut diasuh oleh sekelompok serigala, tentu ia
akan berjalan diatas kedua kaki dan tangannya. Dia akan merangkak seperti
serigala pula. Jadi, bakat dan pembawaan dalam hal ini jelas tidak ada
pengaruhnya apabila lingkungan atau pengalaman tidak mengembangkannya.
Banyak
bukti menunjukkan, bahwa watak dan bakat seseorang yang tidak sama dengan orang
tuanya itu, setelah ditelusuri ternyata watak dan bakat orang tersebut sama
dengan kakek atau ayah/ibu kakeknya. Dengan demikian, tidak semua bakat dan
watak seseorang dapat diturunkan langsung pada anak-anak cucunya. Alhasil,
bakat dan watak dapat bersembunyi samapai beberapa generasi.
Apakah
aliran konvergensi sebagaimana tersebut di atas dapat kita jadikan pedoman
dalam arti bahwa perkembangan seorang siswa pasti bergantung pada pembawaan dan
lingkungan pendidikannya? Sampai batas tertentu aliran ini dapat kita terima,
tetapi tidak secara mutlak. Sebab masih ada satu hal lagi yang perlu kita ingat
yakni potensi psikologis tertentu yang tersimpan rapi dalam diri setiap siswa
dan sulit diidentifikasi.
Hasil
proses perkembangan seorang siswa dapat dijelaskan hanya dengan menyebutkan
pembawaan dan lingkungan. Artinya, keberhasilan seorang siswa bukan dari pembawaan dan lingkungan saja,
karena siswa tersebut tidak hanya dikembangkan oleh pembawaan dan
lingkungannya, tetapi juga oleh diri siswa itu sendiri. Setiap orang, termasuk
siswa tersebut, memilki potensi self-direction
dan self-discipline yang
memungkinkan dirinya bebas memilih antara mengikuti atau menolak sesuatu
(aturan atau stimulus) lingkungan tertentu yang hendak mengembangkan dirinya.
Alhasil, siswa itu sendiri memiliki potensi psikologis tersendiri untuk
mengembangkan bakat dan pembawaannya dalam konteks lingkungan tertentu.
Menurut
Ahmad Fauzi bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya mutu hasil
perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam yaitu:
1)
Faktor
internal, yaitu faktor yang ada dalam diri siswa
itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut
mengembangkann dirinya sendiri;
2)
Faktor
eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di
luar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman
berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan.
D.
PENGARUH
PEMBAWAAN (HEREDITAS) DAN LINGKUNGAN TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK[5]
Belajar sebagai proses atau
aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Secara
global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan
menjadi tiga macam:
1) Faktor
internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani
siswa.
2) Faktor
eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3) Faktor
pendekatan belajar (Approach to Learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor
diatas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama
lain. Seorang siswa yang bersikap conserving
terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal)
umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan
tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berinteligensi tinggi (faktor
internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal),
mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil
pembelajaran. Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebut di ataslah, muncul
siswa-siswa yang high-achievers
(berprestasi tinggi) dan under-achievers
(berprestasi rendah) atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang
kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi
kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala
kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat
proses belajar mereka.
1)
Faktor
internal siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri
siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni: aspek fisiologis (yang bersifat
jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
a) Aspek
fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus
(tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan
sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam
mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai
pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif)
sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. Untuk
mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan
mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu, siswa juga
dianjurkan memilih pola istirahat dan olahraga ringan yang sedapat mungkin
terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting sebab perubahan
pola makan-minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan
merugikan semangat mental siswa itu sendiri.
Kondisi organ-organ khusus siswa,
seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat
mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya
yang disajikan dikelas. Daya pendengaran dan penglihatan siswa yang rendah,
umpamanya, akan menyulitkan sensory
register dalam menyerap item-item informasi yang bersifat echoic dan econic (gema dan citra). Akibat negatif selanjutnya adalah
terhambatnya proses informasi yang dilakukan oleh sistem memori siswa tersebut.
Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya
masalah mata dan telinga di atas,anda selaku guru yang profesional seyogianya
bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin
(periodik) dari dinas-dinas kesehatan setempat.Kiat lain yang tak kalah penting
untuk mengatasi kekurangsempurnaan pendengaran dan penglihatan siswa-siswa
tertentu itu ialah dengan menempatkan mereka di deretan bangku terdepan secara
bijaksana. Artinya, anda tidak perlu menunjukkan sikap dan alasan (apalagi di
depan umum) bahwa mereka ditempatkan di depan kelas karena kekurangbaikan mata
dan telinga mereka. Langkah bijaksana ini perlu diambil untuk mempertahankan self-esteem dan self-confidence siswa-siswa khusus tersebut. Kemerosotan self-esteem dan self-confidence (rasa percaya diri) seorang siswa akan menimbulkan
frustrasi yang pada gilirannya cepat atau lambat siswa tersebut akan menjadi under-achiever atau mungkin gagal,
meskipun kapasitas kognitif mereka normal atau lebih tinggi daripada
teman-temannya.
b) Aspek
psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek
psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan
pembelajaran siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah
sebagai berikut: tingkat kecerdasan/inteligensi siswa, sikap siswa, bakat
siswa, minat siswa, motivasi siswa.
- Inteligensi siswa
Inteligensi pada umumnya dapat
diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi
inteligensi sebenarnya bukan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas
organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak
dalam hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran
organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir
seluruh aktivitas.
- Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang
berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang
relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif
maupun negatif.
Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada anda dan mata
pelajaran yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses
belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap anda dan mata
pelajaran anda, apalagi jika diiringi dengan kebencian kepada anda atau kepada
mata pelajaran anda dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Untuk
mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa seperti tersebut
diatas, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap
dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya.
- Bakat siswa
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial
yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang
(Chaplin, 1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti
memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat
tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi secara global, bakat itu
mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi
sangat cerdas (superior) atau cerdas
luar biasa (very superior) disebut
juga sebagai talented child, yakni
anak berbakat.
Bakat akan dapat mempengaruhi
tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karenanya
adalah hal yang tidak bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya untuk
menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih
dahulu bakat yang dimiliki anaknya itu. Pemaksaan kehendak terhadap seorang
siswa, dan juga ketidaksadaran siswa terhadap bakatnya sendiri sehingga ia
memilih jurusan keahlian tertentu yang sebenarnya bukan bakatnya, akan
berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik.
- Minat siswa
Secara sederhana, minat (interest)
berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Menurut Reber (1988), minat tidak termasuk istilah populer
dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor
internal lainnya seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan
kebutuhan.
- Motivasi siswa
Motivasi ialah keadaan internal
organisme-baik manusia ataupun hewan-yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.
Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk
bertingkah laku secara terarah (Gleitman, 1986; Reber, 1988).
Dalam perkembangan selanjutnya,
motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi instrinsik dan motivasi
ekstrinsik. Motivasi intrinsik
adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat
mendorongnya melakukan tindakan belajar.
Termasuk dalam motivasi siswa adalah perasaan menyenangi materi dan
kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan
siswa yang bersangkutan. Motivasi
ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang
juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Contoh-contoh konkret
motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa yaitu seperti pujian dan hadiah,
peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru dan seterusnya.
Kekurangan atau ketiadaan motivasi
baik yang bersifat internal maupun eksternal akan menyebabkan kurang
bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi
pelajaran baik di sekolah maupun dirumah.
2)
Faktor
eksternal siswa
a) Lingkungan
sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti
para guru, para staf administrasi, masyarakat dan teman-teman sekelas dapat
mempengaruhi semangat belajar seorang
siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan
memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar,
misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif
bagi kegiatan belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak
mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat
orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi
keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik atau buruk terhadap
kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
b) Lingkungan
nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk
lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal
keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar
yang digunakan siswa. Contoh: kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta
perkampungan yang terlalu padat dan tak memiliki sarana umum untuk kegiatan
remaja (seperti lapangan voli) akan mendorong siswa untuk berkeliaran ke
tempat-tempat yang sebenarnya tak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan
perkampungan seperti itu jelas
berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.
3)
Faktor
pendekatan belajar
Pendekatan belajar sebagai cara
atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi
proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat
langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah
atau mencapai tujun belajar tertentu (Lawson, 1991). Faktor pendekatan belajar
sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga semakin mendalam cara belajar
siswa maka semakin baik hasilnya.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Turunan atau pembawaan (hereditas)
memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke
dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau
nenek dan kakek. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting,
antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat,
sifat-sifat atau watak, dan penyakit.
2. Lingkungan
sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak,
sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain
sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya.
3. Tiga
aliran dalam proses perkembangan siswa.
1) Aliran
Nativisme
Nativisme
adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran
pemikiran psikologis. Para ahli aliran
ini berkeyakinan bahwa perkembangan
manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan
pendidikan tidak berpengaruh apa-apa.
2) Aliran
Empirisme
Kebalikan
dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama
john Locke (1632-1704). Doktrin aliran empirisme yang amat masyhur adalah
tabula rasa sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau
lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti
penting pada pengalaman, lingkungan, dan pendidikan.
3) Aliran
Konvergensi
Aliran
konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme.
Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan
sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.
4. Pengaruh
pembawaan dan lingkungan terhadap proses belajar anak diantarnya ada beberapa
faktor yaitu 1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni
keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. 2) Faktor eksternal (faktor dari luar
siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. 3) Faktor pendekatan belajar
(Approach to Learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi
dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran
materi-materi pelajaran.
B.
SARAN
Apabila terdapat kesalahan dalam
penulisan makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan sarannya dari para
pembaca sekalian agar isi makalah ini bisa lebih baik lagi dan dapat diperbaiki
sebagaimana mestinya. Semoga makalah yang penulis sajikan ini dapat bermanfaat
dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiiinnn....
Wallahu A’lam...
DAFTAR
PUSTAKA
Hasibuan,
Anwar Bey, 1994, Psikologi Pendidikan,
Medan, Pustaka Widyasarana.
Purwanto, Ngalim. M, 2007,
Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Fauzi,
Ahmad, 1997, Psikologi Umum, Bandung,
CV Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi, 2002, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT Raja
Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin, 2008, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung.
[1] Drs. Anwar Bey Hasibuan,
Psikologi Pendidikan, Pustaka
Widyasarana, Medan, 1994, hlm. 25.
[2] Drs. M. Ngalim Purwanto
MP, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis,
PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007, h. 72.
[3] Fauzi, Ahmad, Psikologi Umum, CV Pustaka Setia, Bandung,
1997, h.108
[4] Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan,
PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,2002, h.177
[5] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2008. Hal 132-139.
0 komentar:
Posting Komentar